kematian gajah sumatera

Darurat Konservasi! Kematian Gajah Sumatera Picu Kemenhut Datangkan Ahli India

REDAKSI99.ID – Jakarta, Kematian gajah Sumatera kembali menjadi perhatian serius setelah seekor anak gajah betina bernama Laila ditemukan mati di Pusat Konservasi Gajah (PKG) Sebanga, Kabupaten Bengkalis, Riau. Gajah berusia 1 tahun 6 bulan tersebut dinyatakan meninggal akibat infeksi Elephant Endotheliotropic Herpes Virus (EEHV), penyakit mematikan yang kerap menyerang anak gajah dan sulit terdeteksi sejak dini.

Peristiwa ini mendorong Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni memberikan perhatian khusus dan mengambil langkah cepat untuk mencegah kasus serupa terulang di pusat-pusat konservasi gajah lainnya.

Baca Juga: Teror Moskow! Bom Mobil Rusia Tewaskan Jenderal Senior, Ukraina Dituding

Kerja Sama dengan India

Menyusul kematian gajah Sumatera tersebut, Raja Juli Antoni meminta bantuan Fauna Land Indonesia untuk mendatangkan dokter spesialis gajah dari Vantara di India. Vantara dikenal sebagai pusat penyelamatan, rehabilitasi, dan konservasi satwa liar raksasa di Jamnagar, Gujarat, dengan fasilitas rumah sakit gajah tercanggih di dunia.

“Saya sudah kontak temen di India bisa menemukan antivirus itu, tinggal studynya apakah cocok atau tidak dengan gajah kita. Cuman saat ini sudah ada progres. Mereka bahkan mau ngasih gratis jika cocok dengan gajah kita. Tinggal satu step riset lagi,” kata Raja Antoni.

Langkah ini diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan EEHV yang selama ini menjadi ancaman serius bagi populasi gajah Sumatera, khususnya anak-anak gajah.

Kematian Gajah Sumatera Jadi Alarm Pencegahan EEHV

Menindaklanjuti arahan Menteri Kehutanan, Fauna Land Indonesia bersama tim Vantara India tiba di Riau pada Senin, 22 Desember 2025. Kedatangan mereka bertujuan melakukan analisis medis dan menyusun langkah preventif untuk menekan risiko penyebaran virus EEHV.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Prof Satyawan Pudyatmoko.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Prof Satyawan Pudyatmoko.

“Kita hari ini mengunjungi-mengunjungi Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina di Balai Besar KSDAE Riau, bersama dengan tim dari Vantara dari India untuk bersama-sama mengevaluasi bersama-sama melihat kondisi Gajah yang di captivity,” kata Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Prof Satyawan Pudyatmoko.

“Nah karena kita tahu beberapa waktu lalu ada kejadian, misalnya anak gajah yang meninggal karena virus EEHV (Elephent Endotheliotropic Herpes Virus) yang itu akan kita cegah,” sambungnya.

Menurutnya, pencegahan kematian akibat EEHV membutuhkan pengetahuan dan keterampilan khusus, terutama dalam mendeteksi gejala sejak dini sebelum kondisi gajah memburuk.

Ancam Regenerasi Populasi

Kematian Laila menambah daftar kehilangan anak gajah betina di Riau, yang dinilai sangat krusial bagi keberlangsungan populasi gajah Sumatera. Anak gajah betina merupakan penopang utama regenerasi populasi di masa depan.

“Sehingga untuk mencegah itu, kita perlu ada pengetahuan yang cukup. Perlu ada keterampilan yang cukup. Kita bekerja sama dengan mitra kita dari luar negeri untuk datang bersama-sama. Membuat peaceline data untuk Gajah yang ada di sini, lalu juga tentu capacity building untuk mahut (pawang gajah) ya,” jelas Prof Satyawan.

Meski kerja sama ini dimulai di TWA Buluh Cina, langkah preventif akan diperluas. Program ini direncanakan menjangkau seluruh kantong gajah. Wilayah sasaran mencakup Taman Nasional Tesso Nilo, Sebanga, Way Kambas, dan kawasan lainnya.

Kematian Gajah Sumatera Jadi Fokus Survei Medis Lanjutan

CEO Fauna Land Indonesia, Danny Gunalen.
CEO Fauna Land Indonesia, Danny Gunalen.

CEO Fauna Land Indonesia, Danny Gunalen, menyatakan pihaknya siap mendukung pemerintah. Dukungan tersebut mencakup survei dan penanganan kesehatan gajah di Riau. Kegiatan ini akan dilakukan bersama tim Vantara India.

“Kami dari Fauna Land bisa membantu kementerian untuk mensurvey gajah di TWA Buluh Cina ini. Kebetulan kami bermitra dengan Vantara dari India. Mereka adalah salah satu rescue center Gajah terbesar di dunia, dan memiliki rumah sakit Gajah terbesar di dunia,” kata Danny.

Ia menambahkan bahwa tim dokter spesialis gajah dari India telah melakukan diagnosis awal. Tim juga menilai kondisi kesehatan serta kesejahteraan gajah. Pemeriksaan dilakukan setelah merebaknya penyakit herpes.

“Mereka ada dokter-dokter ahli yang sekarang ini ikut mensurvei lokasi ini yang di mana beberapa waktu lalu terjadi outbreak penyakit Herpes, kami sudah melihat mendiagnosa, mempelajari kondisi dan wellfare Gajah ini, dan kami akan melakukan langkah-langkah berikutnya, preventif measurement dari medis dan akan berkala ini. Kami terapkan supaya menghindari terjadi kematian lagi,” ujarnya.

Kolaborasi lintas negara ini diharapkan menjadi model penanganan kesehatan satwa liar yang lebih terukur. Pendekatan yang digunakan berbasis data dan berorientasi pada pencegahan dini. Langkah ini ditujukan untuk menekan angka kematian gajah Sumatera di Indonesia.

More From Author

bom mobil Rusia

Teror Moskow! Bom Mobil Rusia Tewaskan Jenderal Senior, Ukraina Dituding

kebakaran Grogol Petamburan

Darurat! Kebakaran Grogol Petamburan Bikin Ratusan Warga Mengungsi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *